Plagiarisme Marak, Promosi Guru Besar Turun

1720140204_084857_plagiat-ilustrasi

TEMPO.CO, Jakarta¬†— Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Djoko Santoso mengakui laporan plagiat yang datang ke mejanya meningkat drastis. Laporan itu biasanya berasal dari kolega dosen sekampus masing-masing.

“Kami memang banyak menemukan sendiri kasus plagiat. Tapi laporan dari kolega dosen lebih banyak dan meningkat,” katanya saat mengunjungi kantor Tempo, Senin, 24 Februari 2014. (8 Kasus Plagiat yang Menghebohkan Indonesia)

Menurut Djoko, gara-gara banyaknya laporan plagiat dan temuan Dikti, promosi guru besar untuk perguruan tinggi di seluruh Indonesia turun hingga 70 persen. Sebabnya, kata Djoko, banyak laporan dan temuan Dikti itu menyangkut calon-calon guru besar tersebut. “Saya itu juga bisa baca. Jadi, usulan guru besar itu juga saya baca, enggak hanya sekadar saya tanda tangani,” kata Djoko.

Kendati mengakui laporan dan temuan plagiat dosen meningkat, Djoko mengatakan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi tak punya catatan pasti berapa dosen yang melakukan plagiat sepanjang tahun ini saja. Menurut Djoko, laporan dari kolega dan temuan Dikti itu langsung diserahkan ke kampus dosen yang bersangkutan. Soal sanksi atau proses terhadap dosen itu, kata Djoko, diserahkan sepenuhnya ke universitas.

“Universitas kan lembaga independen. Jadi, terserah mereka. Mau dipecat, tak dinaikkan pangkatnya, atau dibiarkan, terserah universitas. Kami hanya memberi pedoman saja,” katanya.

Isu plagiat di kalangan akademik mencuat kembali setelah dosen ekonomi Universitas Gadjah Mada Anggito Abimanyu dituding menjiplak karya orang saat menulis artikel berjudul “Gagasan Asuransi Bencana” yang diterbitkan Kompas, Senin, 10 Februari lalu. Anggito dinilai menjiplak karya Hatbonar Sinaga berjudul “Menggagas Asuransi Bencana” yang juga dimuat Kompas pada 21 Juli 2006.

Anggito membantah bahwa dia menjiplak karya Hatbonar. Dia mengklaim artikel itu berawal dari gagasan pembiayaan bencana tsunami Aceh 2005 dan bahan seminar asuransi bencana di UGM bekerja sama dengan Bank Dunia pada 2011 lalu.

Kasus plagiat dosen juga sempat meledak di Institut Teknologi Bandung pada 2010 lalu. Saat itu, ITB memecat Muhammad Zuliansyah yang terbukti menjiplak karya Siyka Zlatanova. Tak hanya dipecat dari posisi dosen, gelar doktor dan magister Zuliansyah juga dicabut.

KHAIRUL ANAM

TEMPO.CO